Rabu, 29 Desember 2010

Investasi Jaringan Komputer dalam Skala Perusahaan korporat



jaringan komputer adalah tulang punggung sistem informasi korporat, yang bisa menjadi salah satu ukuran kompetitif atau tidaknya sebuah perusahaan. Begitu vitalnya jaringan komputer ini, sehingga kegagalannya akan berakibat hilangnya produktivitas serta kerugian finansial. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin tetap kompetitif menginginkan sebuah infrastruktur jaringan komputer yang dapat diandalkan, serta mampu bekerja optimal dengan tingkat kegagalan serendah mungkin.Perusahaan yang ingin membangun infrastruktur jaringan komputer, biasanya meminta bantuan kepada perusahaan penyedia solusi jaringan komputer. Perusahaan penyedia solusi ini merekomendasikan beberapa produk pembentuk infrastruktur dari berbagai vendor, mulai dari hardware (perangkat keras) seperti komputer, media penyimpanan data, peralatan jaringan; serta software (perangkat lunak) seperti sistem operasi dan aplikasi-aplikasi pendukung.

Setelah melalui langkah-langkah analisis dan perencanaan, penyedia solusi akan melakukan proses instalasi dan percobaan, yang diakhiri dengan pemberian dukungan teknis dengan jangka waktu tertentu. Jika korporat ingin mendapatkan dukungan teknis setelah jangka waktu tadi berakhir, maka korporat harus memperbarui kontrak dengan penyedia solusi.

Kekurangan pertama adalah biaya yang harus dikeluarkan korporat untuk biaya lisensi penggunaan sistem operasi dan aplikasi komersial. Kekurangan kedua adalah ketergantungan yang tinggi terhadap satu vendor. Ketergantungan terhadap vendor juga terjadi pada software sistem operasi dan aplikasi komersial.


Alternatif solusi

Untunglah pada saat ini korporat memiliki alternatif solusi jaringan komputer yang lain yaitu solusi Open Source. Perbedaan aplikasi Open Source dengan produk komersial adalah tersedianya kode penyusun (source code) dan lisensi yang mengatur distribusi aplikasi. Kebanyakan aplikasi komersial tidak menyediakan kode penyusun dalam distribusi aplikasinya. Lisensi aplikasi komersial diberikan hanya untuk sejumlah komputer yang ditentukan, dan pengguna membayar untuk mendapatkan lisensi ini.

Lisensi aplikasi Open Source memungkinkan korporat untuk terus menambah komputer yang menggunakan aplikasi tersebut, tanpa harus mengeluarkan biaya lisensi tambahan. Bertambahnya komputer yang menggunakan aplikasi Open Source tidak mengakibatkan bertambahnya biaya lisensi.

Solusi Open Source juga memberikan keuntungan lain. Ketersediaan source code memungkinkan aplikasi Open Source diperbaiki bersama-sama oleh komunitas programmer di seluruh dunia dengan bantuan Internet jika terjadi masalah. Berbagai kemampuan baru pun dapat segera ditambahkan. Hal ini berakibat semakin rendahnya ketergantungan korporat terhadap vendor tunggal, karena banyaknya sumber pengetahuan yang dapat diakses oleh korporat. Staf Information Technology (IT) korporat dapat segera mempelajari sistem Open Source tanpa bergantung pada vendor. Dengan menyiapkan staf IT korporat untuk menguasai sendiri teknologi Open Source, ketergantungan korporat terhadap vendor hardware dan software akan semakin berkurang, sehingga menghemat biaya operasional dan perawatan jaringan komputer.

Aplikasi Open Source memiliki kemampuan dan performa yang setara dengan aplikasi komersial. Dalam beberapa kasus, aplikasi Open Source mengalahkan aplikasi komersial yang dijalankan pada komputer yang sama. Aplikasi Open Source juga dapat mendayagunakan komputer yang terbilang tua, seperti Intel 486, untuk menjalankan aplikasi tertentu yang membutuhkan mesin yang lebih besar apabila menggunakan aplikasi komersial.

Aplikasi Open Source juga sering digunakan untuk menggabungkan berbagai layanan yang dulunya harus dijalankan di beberapa komputer apabila menggunakan aplikasi komersial ke satu komputer saja. Dengan demikian, berkuranglah alasan untuk menggunakan server-server khusus dari vendor, sehingga mengurangi biaya pengadaan dan perawatan server.

Kemampuan aplikasi Open Source ini dibuktikan dengan debutnya menjadi sistem operasi dan aplikasi yang menjalankan layanan Internet yang terkenal. Sebut saja Yahoo! (www.yahoo.com) yang menggunakan sistem operasi Open Source, yaitu FreeBSD (http://www.freebsd.org) pada servernya, atau search engine terkenal Google (www.google.com) yang menyimpan indeks informasi pencariannya dengan menggunakan lebih dari 10.000 server yang menggunakan sistem operasi Linux.

Survei dari lembaga independen bernama Netcraft menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen situs web di seluruh dunia menggunakan aplikasi Open Source bernama Apache Web Server (www.apache.org/httpd/). Aplikasi DNS (Domain Name Services) bernama BIND menjadi aplikasi terpopuler di Internet yang dipakai untuk menjalankan layanan penerjemah nama komputer menjadi IP address Internet. Kesemua aplikasi yang penulis sebutkan adalah aplikasi Open Source yang sudah terbukti kehandalannya.


Membangun sendiri

Aplikasi Open Source memang menjanjikan performa dan kehandalan dengan investasi yang jauh lebih sedikit, namun tanpa perencanaan yang matang, transisi tidak akan berjalan dengan mulus dan akan mengakibatkan “downtime” yang justru menurunkan produktivitas. Karenanya, perencanaan yang matang sangatlah penting dalam mengimplementasikan jaringan komputer korporat ini. Dalam melakukan perencanaan implementasi jaringan komputer korporat, ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan, yaitu keadaan infrastruktur jaringan komputer korporat yang telah ada beserta aplikasinya,serta kesiapan staf IT untuk mengoperasikan dan merawat aplikasi Open Source tersebut.
Dalam pengamatan penulis, ada beberapa aplikasi yang dapat segera digantikan dengan aplikasi Open Source, yaitu aplikasi layanan server Internet, seperti E-mail, File- sharing, Web, FTP, DNS, dan Firewall, maupun aplikasi server basis data SQL. Namun demikian, ada beberapa aplikasi komersial yang masih belum tergantikan dengan aplikasi Open Source, seperti aplikasi sistem operasi desktop, aplikasi perkantoran yang digunakan oleh banyak user di korporat, serta aplikasi spesifik yang belum ada padanannya di aplikasi Open Source.

Dengan demikian, staf IT harus melakukan pengamatan lebih mendalam tentang mekanisme dan prosedur integrasi, sehingga aplikasi komersial yang belum dapat tergantikan oleh aplikasi Open Source dapat bekerja dengan mulus dengan aplikasi Open Source yang akan dipergunakan oleh korporat. Korporat perlu menyiapkan staf IT yang dimiliki untuk menguasai ilmu aplikasi Open
Source. Berbekal penguasaan komputer dasar yang dimiliki staf IT, korporat dapat mengakses informasi mengenai aplikasi Open Source yang tersedia di Internet dalam bentuk dokumen manual, tutorial, serta arsip kelompok diskusi aplikasi Open Source. Semuanya didapatkan secara gratis. Staf IT dapat mempelajari sendiri sistem yang akan dikelola untuk kemudian memberikan layanan kepada user korporat tersebut.

Setelah melakukan perencanaan, maka yang perlu dilakukan adalah simulasi jaringan komputer korporat oleh staf IT di luar lingkungan jaringan komputer korporat, misalkan, dalam sebuah jaringan komputer kecil di ruang riset staf IT. Simulasi harus dilaksanakan selama beberapa waktu, dan hasilnya harus cukup meyakinkan untuk menyatakan bahwa aplikasi Open Source akan dapat menangani beban yang sudah ditangani oleh sistem aplikasi yang sudah ada.
Setelah simulasi, maka aplikasi Open Source dapat dimasukkan ke dalam jaringan komputer korporat dengan status sebagai layanan cadangan. Trafik dari beberapa user dapat dimasukkan ke dalam aplikasi Open Source ini untuk melihat apakah dapat bekerja dengan baik. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lalu lintas user tersebut dapat dikembalikan ke layanan yang telah ada. Jika hasilnya cukup
meyakinkan, maka sebagian besar lalu lintas dapat dialihkan kepada aplikasi Open Source, dan aplikasi yang telah ada berfungsi sebagai layanan cadangan yang dapat diaktifkan apabila aplikasi Open Source tidak berfungsi.

Sebagai contoh, sebuah korporat ingin menggantikan file server yang ia miliki dengan aplikasi Open Source. Pengguna di korporat tersebut menggunakan sistem operasi Windows. Staf IT harus mencari alternatif Open Source pengganti file server, dan menemukan aplikasi file server bernama Samba yang berjalan di sistem operasi Linux. Staf IT harus mensimulasikan bagaimana Samba akan berjalan memberikan layanan file server kepada user Windows dengan mudah dalam sebuah jaringan komputer internal dengan beban yang sama seperti yang dilakukan oleh file server yang sudah ada.

Setelah semua karakteristik aplikasi “Samba” diketahui dan didapatkan konfigurasi yang optimal, maka staf IT dapat mencoba menjalankan Samba sebagai file server cadangan pada jaringan komputer korporat dengan beberapa user sebagai klien. Apabila klien tidak merasakan penurunan performa, maka isi file server yang telah ada dapat direplikasi menuju Samba. Dan Samba dapat berfungsi menggantikan file server lama dengan cara memberikan nama file server yang lama kepada Samba melalui DNS server.

Rabu, 22 Desember 2010

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI PADA ORGANISASI/PERUSAHAN

PENGGUNAAN GPS PADA PERTAMINA SEBAGAI MEDIA PEMANTAU ASET
PERUSAHAAN

Seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi serta keinginan manusia untuk menjelajah dan melakukan perjalanan dalam mencari informasi maupun menambah kekayaan informasi diluar daerah yang ditempati. Contohnya yaitu penggunaan GPS (Global Positioning System) oleh perusahaan dalam memantau kegiatan perusahaan, salah satu contohnya adalah penggunaan media pemantau aset perusahaan.
GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan informasi posisi dengan ketelitian bervariasi dari beberapa millimeter sampai dengan puluhan meter dan mengetahui posisi geografis kita (lintang, bujur, dan ketinggian di atas permukaan laut) serta kecepatan tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara terus menerus diseluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca, bagi banyak orang secara simultan. GPS terdiri dari 3 segmen: Segmen angkasa, kontrol/pengendali, dan pengguna.

Kegunaan GPS:
• Militer
GPS digunakan untuk keperluan perang, seperti menuntun arah bom, atau mengetahui posisi pasukan berada. Dengan cara ini maka kita bisa mengetahui mana teman mana lawan untuk menghindari salah target, ataupun menetukan pergerakan pasukan.
• Navigasi
GPS banyak juga digunakan sebagai alat navigasi seperti kompas. Beberapa jenis kendaraan telah dilengkapi dengan GPS untuk alat bantu nivigasi, dengan menambahkan peta, maka bisa digunakan untuk memandu pengendara, sehingga pengendara bisa mengetahui jalur mana yang sebaiknya dipilih untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
• Sistem Informasi Geografis
Untuk keperluan Sistem Informasi Geografis, GPS sering juga diikut sertakan dalam pembuatan peta, seperti mengukur jarak perbatasan, ataupun sebagai referensi pengukuran.
• Sistem pelacakan kendaraan
Kegunaan lain GPS adalah sebagai pelacak kendaraan, dengan bamtuan GPS pemilik kendaraan/pengelola armada bisa mengetahui ada dimana saja kendaraannya/aset bergeraknya berada saat ini.
• Pemantau gempa
Bahkan saat ini, GPS dengan ketelitian tinggi bisa digunakan untuk memantau pergerakan tanah, yang ordenya hanya mm dalam setahun. Pemantauan pergerakan tanah berguna untuk memperkirakan terjadinya gempa, baik pergerakan vulkanik ataupun tektonik

Keunggulan GPS

@ Sebuah perusahaan dapat mengetahui dimana, kapan dan dimana posisi suatu benda.
@ pengoperasian alat penerima GPS untuk penentuan posisi suatu titik relatif mudah dan tidak mengeluarkan banyak tenaga dan waktu.
@ Pengumpul data (Surveyor) GPS tidak dapat ‘memanipulasi’ data pengamatan GPS.
@ Meningkatan efisiensi dan fleksibilitas dari pelaksanaan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan penentuan posisi, yang pada akhirnya dapat diharapkan akan dapat memperpendek waktu pelaksanaan aktivitas tersebut serta menekan biaya operasionalnya.

Efisiensi dan Efektifitas pengunaan GPS bagi Pertamina
Penggunaan GPS pada pertamina meningkatkan Efisiensi dan Efektifitas dalam pelacakan keberadaan kendaran saat pendistribusian bahan bakar ke SPBU-SPBU yang terdapat di seluruh Indonesia. Pengontrolaan ini tak lepas kaitanya dengan sistem control room supply & distribution yang di kombinasikan dengan Global Positioning System yang dilakukan secara real team.

Cara kerja GPS Vehicle Tracking
Secara teknis, pengguna harus memasang suatu perangkat pada kendaraan mereka yang berfungsi untuk menentukan posisi kendaraan melalui signal yang dikirim dari satelit GPS dan secara otomatis mengirim informasi posisi tersebut ke suatu system. Dengan demikian posisi kendaraan tersebut dapat terlihat pada layer monitor atau PDA.
Cara kerja:
• Client mengirim pesan
• Pesan melewati BTS terdekat dan dikirim ke operator
• Dari operator data diolah oleh database server
• Database server dikembalikan ke operator
• Operator melalui BTS memperoleh informasi posisi kendaraan
• VMU mendapatkan informasi dari satelit tetang posisi kendaraan tersebut
• VMU memberikan informasi ke BTS terdekat dan disalurkan ke operator. Kemudian dari operator, informasi diolah di server, dikirim ke operator kemudian diinformasikan ke hp melalui SMS.

Cara kerja perjalanan signal GPS Via Internet:
• Client / user request dikirim ke ISP provider
• ISP provider mengirim data ke server
• Server mengolahnya dan dikirim ke GSM SMS center
• SMS center mengirim ke VMU yang terdapat dalam kendaraan melalui BTS
• BTS memberikan informasi timbal balik ke satelit kemudian dikirimkan ke SMS center melalui BTS
• Informasi yang diperoleh di SMS center diolah oleh operator kemudian disampaikan ke ISP provider dan diterima oleh user.

Hambatan Penggunaan GPS
Hambatan penggunaan GPS pada perusahaan Pertamina meliputi pada tahap awal adalah biaya investasi pengadaan hardware dan software yang cukup tinggi. Selain itu
pengadaan truck yang dilengkapi oleh GPS harus di lakukan oleh perusahaan yang
melakukan kerjasama dengan pertamina.

Perbandingan Sebelum dan Sesudah Pengunaan GPS
Perbandingan sebelum dan sesudah penggunaan GPS dapat dilihat dari penurunan nilai kehilangan dari BBM menjadi 0,15 liter dalam tiap tangki BBM yang di distibusikan pada awalnya tiap pendistribusian SPBU mengalami kehilangan 200liter BBM. Hal ini merupakan sesuatu yang amat menguntungkan dan keberhasilan dalam penerapan teknologi GPS dalam perusahaan Pertamina.

http://blog.unila.ac.id/alena/files/2009/06/tugas-paper-sim-lena.pdf